Desktop

Chat

Bookmarks

User

Mail

Videos

Contact

Mobile

Archive

Artikel

News

Budaya

Wisata

Portfolio

Kuliner

KARINDING DI BOJONG TANJUNG

KARINDING DI BOJONG TANJUNG

Karinding mangrupa salah sahiji alat musik tiup tradisional Sunda, eta Karinding teh alat pikeun ngusir hama di sawah. Sora anu dihasilkeun tina ke leterna jarum karinding kaitung sora nu handap low decible. Sorana dihasilkeun tina ditabeuha gagang karinding jeung tungtung curuk nu ditepak-tepakkeun. Eta sora nu kaluar teh ngan kadenge ku sabangsa sasatoan insekta, kayaning wereng, simeut, jangkrik, atawa oge ku manuk, jeung sajabana. Kiwari eta sora teh disebutna ultrasonik. Salian ti ngusir hama, mangpaat karinding oge pikeun ngabeberah maneh, sangkan betah waktu jaga sawah atawa huma. Sangkan jadi wirahma, carana karinding ditabeuhna ku cara ditiup ku baham. Kiwari, nabeuh karinding diinovasi dibarungan ku pakakas musik sejenna.

Tah di pakalangan Bojong Tanjung kesenian karinding dijadikeun salah sahiji kurikulum pendidikan ketrampilan pikeun barudak dina waragad ieu pakalangan bojong tanjung baris gawe bareng jeung karinding Rahayu anu geus boga kagiatan kaparigelan karinding 

ka sadayana anu resep kasenian karinding mangga di Pakalangan bojong tanjung didinya tiasa urang sasarengan ngembangkeun kesenian Karinding eta Cag Ah !!

8 WATAK DAN SIPAT ORANG SUNDA




Pada tulisan  ini  kami ingin mengemukakan pepatah dari leluhur kami (orang Sunda) yang kami gunakan sebagai rangkuman dari keseluruhan falsafah perilaku yang baik.
Kami ingat bahwa nasihat orang tua kami itu demikian bunyinya:

“Mangkade mun urang ngajalankeun hirup kumbuh kudu cageur, bageur, bener, pinter, singer,tata- titi, nastiti jeung surti”

Terjemahannya:

“Awas kalau kita menjalani hidup bermasyarakat haruslah, sehat, jujur, benar, pintar, cekatan, sopan-santun, tertib dan mengerti”.

Nasihat orang tua itu benar-benar menjadi salah satu pegangan hidup kebanyakan orang Sunda. Alangkah baiknya bila kedelapan pegangan hidup itu , yaitu:

1) Cageur
2) Bageur
3) Bener
4) Pinter
5) Singer
6) Tata-Titi
7) Nastiti, dan
8] Surti

kita bandingkan dengan apa yang diajarkan Allah kepada kita melalui firman-firmannya.

1. CAGEUR
 Cageur adalah sehat. Tentu saja dalam menjalankan tugas hidup, beribadah - sesuai dengan tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah s.w.t. – adalah agar menjaga kesehatan, baik lahir maupun batin. Kita tidak dapat menjalankan tugas (beribadah) jika tidak sehat. Kesimpulannya seseorang diwajibkan “menjaga diri” dengan sebaik-baiknya.

Firman Allah: " Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan". (QS-Al Baqarah: 110)

Simaklah ayat-ayat berikutnya:
 "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS- Al Anfal: 25)


"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS- At Tahrim: 6)

Menjaga kesehatan juga mengkonsumsi makanan dan minuman yang baik (halal) dan tidak berlebih-lebihan:

Firman Allah:" Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.(QS- Al Maidah: 88]


Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS- Al A’raaf: 31)

 Begitu juga menjaga diri dengan cukup istirahat, menggunakan waktu sesuai dengan sunatullah, siang untuk bekerja, malah untuk istirahat(tidur).

Firman Allah:"Dialah (Allah) yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia (Allah) menjadikan siang untuk bangun berusaha". (QS- Al Furqan: 47)

 2. BAGEUR.
Bageur, artinya jujur dan baik. Seseorang harus mempunyai sifat yang jujur dan kebaikan harus ditegakkan, tindakan jujur juga termasuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Firman Allah:" Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur… "dst.(QS-Al Baqarah: 282)

 "Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat". (QS- Al Anfal: 58]

  3. BENER.
Bener adalah benar, kebenaran adalah modal utama untuk menjadi manusia yang baik. Jika bertindak benar maka pasti baiknya, tetapi bertindak baik belum tentu benarnya. Kebenaran ini yang harus ditegakkan, benar, kebenaran (hak) ditekankan pada berpuluh-puluh ayat dalam Al Qur’an, bahkan Al Qur’an itu sendiri adalah sumber kebenaran.
Firman Allah:" Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS-Al Baqarah: 147). "Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," (QS-Al Maidah: 48]

 Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfa`at bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS-Al Maidah: 119)

4. PINTER.
Pinter, adalah Pintar, kebalikan dari bodoh. Manusia dituntut untuk meninggalkan kebodohan, menuntut ilmu dan mencari ilmu pengetahuan dengan sebanyak-banyaknya. Al Qur’an sangat menganjurkan bagi seorang Muslim untuk menuntut ilmu pengetahuan dan menggunakan akalnya. Kata-kata berpikir dan berakal sangat banyakditekankan pada ayat-ayat-Nya.
Firman Allah: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,"(QS-Ali Imran: 190)


"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS-Al Mujadilah : 8]

 Sungguh suatu kekeliruan bila ada kaum agamis yang benci kepada ilmu pengetahuan. Bukan saja kebencian itu sama dengan mencegah manusia untuk menggunakan akalnya. Sehingga ia akan lebih senang manusia tidak bersyukur akan kenikmatan yang diberikan Allah s.w.t. yang sudah menbedakan manusia lebih mulia daripada binatang, akan tetapi kebencian itu menjadi suatu tanda bagaimana kaum agamis tidak tahu berterima kasih akan keberhasilan Ilmu Pengetahuan. Ilmu yang sudah menemukan berbagai macam peralatan modern dan canggih yang sudah banyak digunakan oleh kaum agamis itu sendiri.

Di samping itu, seseorang yang menentang untuk menuntut ilmu pengetahuan tiada berbeda dengan menghasut supaya manusia jangan berterima kasih (bersyukur) kepada Rabbnya, karena kalau manusia mengenyampingkan pemberian Allah s.w.t. yang dinamai akal yang sangat “mahal” harganya, sama saja dengan menghinakan Allah s.w.t.
Seseorang tidak usah khawatir bahwa Ilmu Pengetahuan akan merendahkan derajat agama, bahkan dapat meng-hancurkannya. Masalah ini sudah kita lihat pada pembahasan di muka merupakan sesuatu yang mustahil. Sesungguhnyalah ilmu pengetahuan dan kemajuan di muka bumi ini bukan menjadi tanda bahwa manusia itu semakin mengerti, tetapi semakin jelas ketidak mengertiannya.

Bila teknokrat-teknokrat Barat sering mencari pengetahuan tentang ilmu ghaib dan dzat-dzat halus dari bangsa India (Hindu), ilmu yang tidak mudah ditiru oleh siapapun juga sebelum mempelajarinya, maka itu berarti bahwa dia tidak berani untuk memandang rendah kepada bangsa Timur.

Kita akui bahwa bangsa kita sudah tertinggal jauh oleh bangsa Barat dalam hal teknologi, tetapi ini bukan menjadi bukti bahwa orang Timur Kuna memiliki ilmu yang lebih rendah dari kemajuan Barat pada masa kini.

Walaupun bagaimana, tidak bisa dibantah bahwa bangsa Timur memiliki perasaan dan harga diri yang kita sendiri tidak mengerti, yaitu perasaan tidak puas bila melupakan Dzat Yang Maha Kuasa, yang juga tidak dimengerti oleh kita.

 5. SINGER.
Singer, artinya terampil, produktif dalam berkarya, banyak keahlian, pada prinsipnya manusia Sunda dituntut untuk bekerja dan berkarya. Dalam bahasa Sunda sekarang adalah “rancage”, artinya “terampil”. Dalam hal ini leluhur Sunda menganjurkan agar warganya mempunyai keterampilan (skill) untuk menjalani hidup yang banyak tuntuntan dan tidak mudah ini. Keterampilan memang sesuatu jalan untuk ikhtiar dalam beribadah kepada Allah s.w.t. Setiap manusia dianjurkan untuk berusaha dan berkarya.

Firman Allah:"Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja." (Q.S. Ash Shafaat:61). "Dialah(Allah) yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia (Allah) menjadikan siang untuk bangun berusaha".(Q.S. Al Furqaan: 47)

Jelaslah ayat di atas menganjurkan untuk kita selalu bekerja dan berusaha, tiada lain kunci kesuksesannya adalah “singer” alias “terampil”.

 6. TATA-TITI.
Tata-titi, adalah tata-krama atau sopan-santun, seseorang yang sehat, jujur, benar, pintar dan terampil jika lupa akan sopan-santun (etika) maka hidupnya tidak akan disenangi orang. Falsafah ini lengkapnya TATA-TITI, DUDUGA PERYOGA, segala perilaku menggunakan sopan-santun dan etika yang benar.

Firman Allah: "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS-An Nur: 60)

"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. "(QS-Anisaa: 86)


 "Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling".(Q.S. Al Baqarah: 63)

7. NASTITI.
 Nastiti artinya tertib. Tertib dalam bertindak, tertib berperilaku dan menjaga ketertiban adalah salah satu modal utama untuk mencapai keberhasilan dalam berkarya. Bertindak tertib artinya mengikuti suatu peraturan yang benar serta tidak melanggarnya.

Firman Allah: "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. "(QS- Al Jaatsiyah: 18]

 Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS- Ar R’ad: 37)

8. SURTI.
 Surti artinya bijak, mengetahui dengan cepat terhadap maksud orang lain walaupun hanya dengan isyarat, sehingga ia akan bertindak bijak dan mampu memutuskan sesuatu dengan bijaksana dan adil.

Firman Allah: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS- An Nisa: 58]



"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran". (QS- An Nahl: 90)

Dan akhirnya simaklah ayat berikut ini:

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. "(QS- Al Mumtahanah:8]

 Demikianlah bahasan kami akan nasihat leluhur kami khususnya, masyarakat Sunda pada umumnya. Akhiurul kalam semoga apa yang kami kemukakan di sini diridhai Sang Pencipta Allah s.w.t., karena kebenaran hanyalah daripadaNya dan kekeliuran adalah milik kami.

Semoga bermanfaat dan berfaedah bagi kita semua.

Loyalitas Budaya

“Nu lima diopatkeun. Nu opat ditilukeun. Nu tilu diduakeun. Nu dua, dihijikeun. Nu hiji jadi kasep (Yang lima dijadikan empat. Yang empat dijadikan tiga. Yang tiga dijadikan dua. Yang dua dijadikeun satu. Yang satu menjadi tampan)”.

Kalimat itu diucapkan pengajar Filsafat Seni, Prof Yakob Sumardjo saat mengajar mahasiswa pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Kota Bandung. Menurut dia, filsafat Sunda selalu merujuk alam.
Apakah kalimat tadi dikenal di kalangan orang Sunda maka kini? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mari melihat ke fenomena yang muncul kini, saat iket menjadi tren di kalangan anak muda. Iket semula digunakan oleh masyarakat adat, namun sekarang tak lagi demikian. Anak-anak muda dengan berbagai macam motif dan gaya memakai iket tampak di setiap sudut Kota Bandung. Ada apakah ini?
Terlalu banyak pertanyaan yang muncul. Tokoh masyarakat Sunda, Eka Santosa, mengurai sejumlah jawaban yang memungkinkan hal itu terjadi. Menurut Eka, fenomena ini terjadi secara alami. Ini menunjukkan adanya kerinduan akan tata nilai-nilai local. “Penyebabnya pada kejenuhan akan modernisasi yang tidak menyelesaikan masalah. Yang ada malah merumitkan tradisi, sehingga ada keinginan kembali pada tata nilai tradisional,” katanya.

Iket yang dipakai oleh generasi sekarang adalah sebagai sebuah identitas. Mereka sengaja menciptakan kekhasan iket yang mereka pakai untuk menunjukkan siapa mereka. “Padahal, pemakaian iket itu penuh dengan pemaknaan diri,” ujar Eka.

Dia member contoh di tengah masyarakat Baduy yang menjadikan iket sebagai identitas diri sejak lampau. Orang bias membedakan dengan mudah dari Baduy manakah seseorang dilihat dari iket yang dipakainya. Selain itu, iket juga merupakan komitmen pada diri yang harus terus terjaga.
Budayawan Sunda Nana Munajat menerjemahkan iket sebagai batasan pada diri yang memakainya. Iket yang dipasang di kepala orang Sunda, secara filosofis menandakan agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dan ngencar (lepas) dari kasundaan. “Iket itu sebagai ikatan bagi pemakainya,” ucapnya.
Kebanggaan memakai iket sekarang tinggal diarahkan pertanggungjawabannya melestarikan budaya local. Namun, tidak bias dimungkiri iket juga menghadirkan berbagai macam kreativitas gaya memakainya. Dulu, menurut Nana, dikenal tujuh gaya memakai iket, di antaranya parekos nangka, lohen, tutup liwet atau julang ngapak, barangbang semplak, balukar peunggas, sampai, dan kole nyangsang. “Munculnya banyak gaya memakai iket untuk kreativitas itu sah-sah saja. Karena iket juga tidak bisa diklaim  begitu saja sebagai milik masyarakat Sunda. Daerah lain juga memiliki. Yang membedakan hanyalah cara berpikir yang mesti selaras dengan pakaian yang digunakan,” kata Nana.

 (A = Barangbang Semplak), (B = Julang Ngapak), (C = Mahkota Wangsa), (D = Candra Sumirat), (E = Koncer), (F = Kole Nyangsang), (G = Kampung Adat Dukuh), (H = Parekos Jengkol), (I = Parekos Gedang), (J = Parekos Nangka), (K = Kebo Modol), (L = Buaya Ngangsar)
Nana juga mengapresiasi keinginan pemerintah mewajibkan memakai iket. Namun tidak hanya memakai, diisi pula makna dari iket itu. “Untuk apa kepala dipakaikan iket kalau isinya tetap ngencar. Fungsi iket itu kan, agar kita tidak ingkah dari budaya dan agama,“ tutur Nana.

Kalimat yang diucapkan Prof. Yakob Sumardjo tadi sudah dikenal oleh orang Sunda sejak di masa lampau. Kalimat itu pula yang mudah diingat ketika melipat kain iket sunda untuk dipasangkan di kepala. Yakob mengatakan filsafat alam itu pula yang ada dalam iket. Ia menggambarkan iket itu sebagai mandala (mata angin) yang memiliki pusat di bumi. Itu pula digambarkan dalam warna-warna dasar iket yang selalu dekat dengan alam. “Ketika dari lima menjadi satu, maka ia berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan yang satu. Setelah dekat dengan Tuhan, maka pemakainya akan tampan luar dalam,” ucap Yakob.

Hal senada juga diungkapkan salah seorang pendiri Paguyuban Sundawani Robby Maulana Dzulkarnaen. Menurut dia, fenomena maraknya pemakaian iket, khususnya di kalangan anak muda bisa diartikan sebagai tanda bangkitnya budaya Sunda. Meski ini baru menjadi cirri, tapi diharapkan bisa mendongkrak kesadaran dalam bertingkah laku. “Malu dengan iket jika ternyata masih berbuat di luar Kasundaan,” katanya.
Robby melihat fenomena ini menjalari kaum muda. Dengan begitu, antara kaum muda dan kaum sepuh sama-sama menyandarkan diri.

Iket Kreasi
Kini, tidak hanya warna polos dan mendekati tanah seperti biru, cokelat, dan putih yang menjadi tren. Iket-iket dengan motif tertentu dibuat untuk menunjukkan identitas pemakai. Ada yang dilukis atau pun dicetak. Untuk mempermudah pemakai, iket telah dibuat praktis bak peci. Namun, yang tetap rajin berkreasi bertahan dengan iket lepasan.

Budayawan Nana Munajat juga membuat iket praktis sejak 2005. Hanya, dulu Nana menjualnya untuk kalangan tertentu sesuai pesanan. Pemesanan iket praktis didominasi gaya kole nyangsang, cikerak, kuda ngencar, dan barangbang semplak. Dengan harga Rp50.000, Nana menerima pesanan minimal 10 buah. Pesanan pun lalu diproduksi di rumahnya di Jalan Kuta Luhur No. 77, RT 02 RW 08 Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat.

Iket praktis dengan berbagai variasi di luar pola dasar pun bermunculan. Komunitas Iket Sunda (KIS) yang menanam benih munculnya kreasi itu. Menurut Ketua KIS, Agus Roche, munculnya pemakaian iket Sunda itu karena kecintaan anak muda terhadap budaya Sunda. Pemakaian iket itu nantinya tidak hanya berfungsi merapikan rambut, melindungi kepala, membawa barang, dan pelindung badan, tetapi juga bisa membuat pemakainya bisa mengikat hawa napsunya.
Soal motif yang ada dalam iket, Agus membaginya dalam beberapa bagian yaitu pager, modang, waruga, dan juru. Pager adalah motif yang ada di sekeliling iket. Modang, bentuk kotak bujur sangkar pada bagian tengah iket. Waruga, bagian tengah iket yang polos. Sedangkan juru adalah motif yang ada di setiap sudut iket.
Gaya-gaya iket juga terus bervariasi. Malahan jika pemakai iket memiliki gaya baru, ia akan memamerkan di komunitas. “Saya berharap tren ini tidak sesaat dan bisa terus bangga sebagai orang Sund,” ucap Agus. 
Info :  http://aingkumaha.blogspot.com/2013/01/iket-mengikat-loyalitas-budaya.html

Pengertian dan Definisi Seni Budaya Menurut Para Ahli

Seni merupakan suatu karya yang dibuat atau diciptakan dengan kecakapan yang luar biasa sehingga merupakan sesuatu yang elok atau indah. Kebutuhan akan seni budaya merupakan kebutuhan manusia yang lebih tinggi diantara urutan kebutuhan lainnya. Seni budaya berkaitan langsung dengan kesejahteraan, keindahan, kebijaksanaan, ketentraman, dan pada puncaknya merupakan proses evolusi manusia untuk makin dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, seni budaya akan berkembang apabila masyarakat makmur dan sejahtera.
Berikut ini adalah Pengertian dan definisi seni budaya menurut para ahli:
# HARRY SULASTIANTO
Sei budaya merupakan suatu keahlian mengekspresikan ide-ide dan pemikiran estetika, termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi pandangan akan benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah sehingga menciptakan peradaban yang lebih maju
# M. THOYIBI
Seni budaya merupakan penjelmaan rasa seni yang sudah membudaya, yang termasuk dalam aspek kebudayaan, sudah dapat dirasakan oleh orang banyak dalam rentang perjalanan sejarah peradaban manusia.
# IDA BAGUS PUTU PERWITA
Seni budaya merupakan penunjang sarana upacara adat
# SARTONO KARTODIRDJO
Seni budaya merupakan sistem yang koheren karena seni budaya dapat menjalankan komunikasi efektif, antara lain dengan melalui satu bagian saja dapat menunjukkan keseluruhannya

Bojong Tanjung

I. LATAR BELAKANG

Menari dan bernyanyi
Melukis hidup sejuta warna
Menari dan bernyanyi
Memberi warna dengan kuas cinta

Seringkali batin kita dipenuhi pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang tak puas dengan suatu jawaban. “Siapa aku? Apa tujuan hidupku? dan Bagaimana kita menjalani hidup? Jawaban yang memuaskan secara batiniah dari pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti itu tidaklah cukup dengan hanya menyodorkan sejumlah retorika. Apalagi jika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan secara polos dan lugu oleh anak-anak dengan bentuk dan struktur kalimat yang lebih sederhana.

Jawaban yang mereka perlukan bukanlah teori dan retorika yang jlimet, melainkan contoh-contoh dalam kehidupan yang riil dan sederhana. Menari, bernyanyi dan bermain adalah dunia yang mereka pahami, dunia yang penuh dengan keceriaan dan kehangatan untuk menumbuhkan optimisme dalam meraih sejuta impian. Metode seperti ini sebenarnya juga terukir dan terpahat dalam banyak kearifan lokal setiap suku bangsa, tak terkecuali suku Sunda. Sayangnya kearifan-kearifan lokal tersebut semakin hari semakin samar tertimbun sampah globalisasi, karena glamoritas materialnya telah lebih dulu menyilaukan mata kita sehingga spirit globalisasinya luput tertangkap secara ajeg.

Berpijak dari pemikiran tersebut, maka pada tahun 2010 dibentuklah kelompok bermain dan berlatih yang terus berkembang hingga pertengahan 2012 ini dibentuk “Pakalangan Bojong Tanjung” sebagai wahana untuk menggali dan menemukan kembali spirit dan tekstur dari pahatan-pahatan kearifan lokal Sunda. Pakalangan adalah kosakata bahasa Sunda yang bisa dimaknai dalam bahasa Indonesia sebagai area permainan atau adu ketangkasan.

Sedangkan Bojong Tanjung adalah nama kampung yang menunjuk pada letak geografis maupun kultural tempat pakalangan tersebut berada, yaitu di pinggir sungai Citarum. Dengan spirit di atas, Pakalangan Bojong Tanjung dibangun sebagai wahana untuk menggali dan menggumuli kearifan lokal budaya Sunda melalui permainan tradisional (kaulinan barudak), latihan kesenian, baik seni rakyat maupun seni modern, kelompok belajar, sepeda santai, ngabungbang (summer camp), dll. Permainan tradisional (Kaulinan barudak) memiliki potensi untuk menumbuhkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, spontanitas, dan responsibilitas.

Potensi yang dimiliki oleh kesenian rakyat adalah kecintaan terhadap warisan budaya leluhur dan nilai-nilai yang dikandungnya, sedangkan kesenian modern mengenalkan pada kultur luar sebagai cerminan dan toleransi budaya yang lebih luas. Kegiatan sepeda santai menjadi media untuk merangsang pertumbuhan fisik anak-anak, menjaga kebugaran, sekaligus mengenali lingkungan sekitar.

Sementara kelompok belajar adalah media penyegaran dalam mendalami materi pelajaran di sekolah dengan suasana yang lebih rileks, dan kegiatan ngabungbang yang dilakukan dalam menyambut bulan purnama adalah wahana untuk mensyukuri dan merenungi alam sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa sekaligus sebagai ruang untuk melangsungkan pertunjukan dan kaulinan yang telah dilatihkan.

Seluruh materi kegiatan di Pakalangan Bojong Tanjung (PBT) pada akhirnya bermuara pada pendidikan dan pengembangan karakter anak-anak.

Kesenian, kaulinan barudak, ngabungbang, sepeda santai, dan kelompok belajar adalah sarana untuk menyampaikan nilai-nilai pada anak melalui kegiatan riil untuk melengkapi kegiatan belajar mereka di sekolah-sekolah formal maupun madrasah. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan tidak terlepas dari pendidikan seni untuk menyelami kehidupan dengan cara yang sederhana, karena kami percaya pada pernyataan TS Eliot, seorang sastrawan dunia yang mengatakan bahwa, “fungsi dari semua seni adalah untuk memberi kepada kita pemahaman atas suatu nilai (makna) dalam hidup, dengan memberi tekanan nilai itu dalam seni”.

II. TUJUAN
Pakalangan Bojong Tanjung dibentuk secara swadaya oleh beberapa orang dari kalangan penggiat seni, akademisi seni, dan tokoh masyarakat yang peduli terhadap antusiasme anak-anak di kampung Bojong Tanjung namun tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai sebagai ruang ekspresi dan edukasi. Sementara ini PBT menempati lahan seluas 9 X 12 meter yang pada saat ini sedang dibangun panggung permanen untuk latihan, workshop, dan pementasan seni sisanya meminjam lahan milik tetangga yang berdekatan.

Pada saat ini pula sedang dalam proses pembangunan ruang perpustakaan dan alat peraga dengan area di seberangnya namun terpisah oleh lahan milik tetangga. Keberadaan PBT yang menjadi ruang bermain, berekspresi, dan belajar anak-anak tanpa memungut biaya sepeserpun dari peserta mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat sekitar, bahkan mereka sudah menunggu program kegiatan PBT untuk segmen usia remaja dan dewasa yang telah turut bergabung.




Select Menu